“Superman and Me,” Sherman Alexie (Literary Review)

It is hard to believe that a superhero-like guy who is able to break all the boundaries surrounding his life is an American Indian offspring. In fact, this ordinary guy is the person who deserves to get title “Superman” because of his capability to leap high and fly to his own sky to live much more properly.

In his Superman and Me, Alexie describes his life condition through sentence “We were poor by most standards, but one of my parents usually managed to find some minimum-wage job or another, which made us middle-class by reservation standards.” Well, though his family incapability to let’s-so-call-it provides an adequate prosperity to his early childhood (it can be seen in sentence “We lived on a combination of irregular paychecks, hope, fear and government surplus food”), the young Alexie could break the fence covering his freedom and walk one step forth from powerlessness.

The interesting part is when he tried to learn to read. Though the word “paragraph” was the thing he never knew before, he tried to present the whole universe as his own essay. “A little Indian boy teaches himself to read at an early age and advances quickly” was what he could say about his childhood’s prodigy. What was he going to say and tell, then? By acknowledging that an Indian boy living on the reservation grows into a man who often speaks of his childhood in the third-person? Was it because of the racial prejudice, or ethnic differentiation by non-Indian towards an American Indian offspring?

It cannot be denied that racism, not only towards Afro-Americans, is also happened to Indians. “We were Indian children who were expected to be stupid…As Indian children, we were expected to fail in the non-Indian world. Those who failed were ceremonially accepted by other Indians and appropriately pitied by non-Indians” was the fact that ethnic differentiation is happened. Luckily, for a child like Alexie, he did not only stand up and watch all those wrong things happened to him. Instead, he refused to fail and did hard works to gain success. Just like any other superhero movie, it was ended with a cliché happy ending. Alexie could save his own live and be a better person in his future. However, this superhero’s journey is still a long way to go. There are hundreds or maybe thousands Indian child who is unable to leap high and break every single boundaries to live in equality. And maybe this is Alexie’s duty to save them; this is all the people in this world’s duty to save their own live.

Resolusi

Resolusi, kadang menjadi sebuah kata yang paling ditakuti semua orang ketika tahun berganti. Bukan karena mimpi yang terlampau tinggi, melainkan keputusasaan apabila usaha besar pun tak bisa menepati. Apabila boleh memilih, mungkin aku kan lebih memilih tuk berpijak pada bumi, tanpa harus bersusah payah menyentuh langit dengan melompat tinggi. Lebih memilih untuk menjalani hari, selayaknya tak ada beban hitam yang menaungi. Aku tak berkata kalau resolusi adalah beban yang harus kau angkat tinggi, namun pada kenyataanya terkadang resolusi menjadi sebuah pagar berduri yang menutupi kebebasan seorang insan yang hanya sedang mencoba belajar berdiri. Sekali lagi aku tak berkata bahwa kita tak seharusnya bermimpi, karena bermimpi adalah satu – satu nya hal yang membuat kita sadar tentang apa itu kekuatan imajinasi. Percaya atau tidak resolusi memberi sedikit harapan untuk masa depan yang lebih berisi. Masa depan yang jauh melebihi apa itu imaji dan segala keindahannya yang terpatri.

terkadang

dalam raga tersimpan jauh makna apa itu jiwa . . . yang tak mengerti bagaimana sebuah derita bermetamorfosa menjadi ribuan warna yang disebut pelita. Sebut saja aku bahagia dengan kesendirianku yang tak bernama, walaupun sesungguhnya terkadang kedua telapak tanganku ingin menggenggam sesuatu yang bernyawa, tak sekedar udara dingin yang menusuk raga.

ada apa dengan matahari? bumipun tak mengetahui

Entah mengapa hari ini Matahari nampak tak bersahabat dengan bumi. Tak mampu lagi bumi tertawa terbuai dalam lautan cahaya yang diberikan matahari. Matahari juga nampak tak mau bersemi dan terbit di ufuk timur cakrawala. Membuat bumi merasa resah, membuat bumi merasa gundah, tak tahu kemana harus melangkah, atau hanya membuatnya diam terperangah. Apa yang terjadi dengan Matahari?Bumi tak mengetahui. Bumi takut untuk bertanya, bumi takut untuk menggores luka jika tahu apa yang sebenarnya tersembunyi dibalik bayangan cahaya.

Bumi hanya mampu melangkah mundur sedikit demi sedikit, pura-pura tetap tersenyum walaupun sesungguhnya tak ingin tersenyum. Pura-pura tak tahu apa-apa walaupun kenyataanya dalam hati terdapat sejuta tanda tanya. Tanda tanya mengapa matahari nampak lelah untuk bersahabat dengan bumi. Tanda tanya mengapa banyak hal-hal yang mengganjal dibalik setiap canda yang melintasi. Seandainya bumi tahu, atau seandainya matahari mau memberi tahu. Pasti tarian rotasi dan revolusi itu akan terus berjalan. Berjalan ke seluruh penjuru mata angin dan menunjukan existence nya. Mungkin bumi membuat kesalahan, atau mungkin bumi tak mampu melihat kesalahan itu.

Kadang memang bumi merasa lelah, jika melihat matahari nampak acuh padanya, kadang bumi merasa marah, jika melihat matahari tak mau menunjukkan amarah. Biarkanlah bumi tahu, biarkanlah bumi tersenyum pilu, atau biarkanlah bumi menangis haru, asalkan jangan biarkan bumi merasa ragu; merasa ragu akan keberadaan matahari yang menemani bumi selalu, menyinari bumi diwaktu dulu, dan memberi warna yang selalu baru. Jangan biarkan bumi kehilangan arah, jangan biarkan bumi tuk berhenti berubah, karena bumi tak kan pernah berhenti mencari arah, mencari arah bersama matahari menuju langit sejuta titah.

Berjalan perlahan dan biarkanlah sayap ini tuk menari, biarkanlah sayap ini terus berusaha, biarkanlah sayap ini terluka, biarkanlah sayap ini kehilangan daya, asalkan pada akhirnya tahu mengapa…mengapa langit itu tak lagi bersahabat, mengapa langit itu berwarna hitam pekat, dan mengapa hujan itu dihiasi dengan rauman petir yang dahsyat..

Hanya ini mungkin yang bisa bumi lakukan, mencoba memahami dan menjawab pertanyaan sendiri. Mencoba mencari kunci untuk membuka pintu nurani. Mencoba mewarnai hari seakan tak kan pernah ada ironi. Ironi yang selalu membasahi hati, dan selalu merusak harapan yang suci

Biarlah bumi melintasi samudera asa, berharap tuk kembali menuai canda, dan biarlah bumi bermain dengan sakit hati, agar suatu saat nantinya bumi tak kan pernah menyakiti lagi.

pualam yang bernyanyi

Mungkin memang ini yang bisa aku lakukan saat ini..tak peduli akan lelah yang selalu menggodaku tuk berlutut dan menyerah pergi. Dan mungkin memang inilah yang seharusnya kulakukan sekarang ini, mengukir pualam tuk membaca misteri di setiap embun di pagi hari.

Aku bukanlah orang yang mampu menatap matahari, terlalu sakit buatku tuk menantang sang dewa pagi.

Aku bukanlah orang yang mampu mengarungi samudra tak berpenghuni, terlalu banyak pengharapan yang kan menungguku ditepian koral penuh duri nanti.

Aku hanyalah orang yang berusaha tuk menari dalam sunyi, bergerak menurut melodi hati, walau telinga menutup pintu tuk berekspresi. Kaki kecilku sendiri mencoba tuk berlari, berusaha menjauh pergi dan meninggalkan segenap sakit hati. Kedua lenganku bahkan terluka saat aku mengepak bebas hanya untuk terlepas dari siksa udara yang membekas sampai ketulang tak berbias.

Aku pernah bernyanyi, suatu hari nanti kan kutulis imajinasi. Aku pernah berjanji, walaupun tertatih nanti namun kutetap kan berjalan diatas bara realita yang tak bernurani. dan mungki memang ini yang bisa kulakukan saat ini, mengukir pualam seorang diri dengan tanganku sendiri…

the blind ears

Aku biarkan setiap kepingan puzzlenya menari sekehendak hati mereka sendiri tuk mengisi apa yang kurang dalam hidupku ini. Bukan berarti aku tak puas akan apa yang kujalani selama ini, namun terkadang perasaan jenuh selalu menantangku tuk menghilang pergi. Terkadang aku berpikir bahwa tak ada yang lekang abadi, namun entah mengapa perasaan sendiri ini nampak tak bisa mati. Banyak orang disekelilingku yang selalu mendukungku berlari, namun setelah jarak menjadi jurang pemisah yang tinggi, yang ada hanyalah gema tak berarti.

Gema itu perlahan mulai sirna, tak terdengar oleh kedua telinga. Terkadang ada getaran kuat yang memaksa telinga tuk membuka mata, namun setelah sadar bahwa itu hanyalah angin lalu belaka, telingaku mulai membuta, dan akhirnya meninggalkan nyanyian tak bernada. Aku sekarang mulai berbaring, memandang jauh keluar galaksi sana, hanya untuk mencari awan nebula yang mau ikut menyelam bersama, menyelami samudra ke 7 dengan kedua hati yang saling terbuka. Bersandar pada tepian koral yang luput dari perhatian sang masa, dan menghujat pada dunia bahwa tak kan ada lagi hal yang sama.

easier to lie

Lebih mudah memang mengumbar dusta, tanpa harus takut tuk ternoda. Lebih mudah memang menepis nyata, tanpa harus takut terbelenggu dosa. Kadang rasa takut menjadi pemicu, beralibi pengecut, tanpa beban lidah menjadi ringan tangan. Namun tentunya hati masih punya mata, mata tuk melihat mana yang layak menjadi kenyataan yang kejam atau kebohongan yang indah dalam kelam.

Dalam penantian nya pun, terkadang Dusta selalu mencoba mendobrak pintu kebebasan yang mengekangnya tanpa rasa. Terkadang dusta ingin selalu tampil sempurna, mengacuhkan segala rasa hina tuk ditukar dengan keindahan sekejap mata. Terkadang dusta ingin mengambil alih derita, menghilangkan rasa sakit tanpa ujung di dada dan mencoba untuk bermetamorfosis menjadi kupu-kupu haru yang membumbung pilu.

Dusta atau nyata, keputusan tuk memilih mana diantara para tangan jiwa itu terletak pada kebijaksanaan sang manusia. Entah manapun yang akhirnya duduk di singasana raja yang mulia, kan tetap keputusan bijak yang memberikan keindahan abadi yang bertahan selamanya.