Aku biarkan setiap kepingan puzzlenya menari sekehendak hati mereka sendiri tuk mengisi apa yang kurang dalam hidupku ini. Bukan berarti aku tak puas akan apa yang kujalani selama ini, namun terkadang perasaan jenuh selalu menantangku tuk menghilang pergi. Terkadang aku berpikir bahwa tak ada yang lekang abadi, namun entah mengapa perasaan sendiri ini nampak tak bisa mati. Banyak orang disekelilingku yang selalu mendukungku berlari, namun setelah jarak menjadi jurang pemisah yang tinggi, yang ada hanyalah gema tak berarti.
Gema itu perlahan mulai sirna, tak terdengar oleh kedua telinga. Terkadang ada getaran kuat yang memaksa telinga tuk membuka mata, namun setelah sadar bahwa itu hanyalah angin lalu belaka, telingaku mulai membuta, dan akhirnya meninggalkan nyanyian tak bernada. Aku sekarang mulai berbaring, memandang jauh keluar galaksi sana, hanya untuk mencari awan nebula yang mau ikut menyelam bersama, menyelami samudra ke 7 dengan kedua hati yang saling terbuka. Bersandar pada tepian koral yang luput dari perhatian sang masa, dan menghujat pada dunia bahwa tak kan ada lagi hal yang sama.
Filed under: life and its story



1
2
3
sedang belajar menghitung sepertinya…
wah dalem banget kata2nya, bingung mau komen
mampir saja deh…
tidak apa2…terima kasih sudah mau mampir… mungkin mau tukar link juga?
nice
Semoga sukses nemuin awan kinton, eh nebulanya. Ia seperti cermin bagimu. Kelak kalau sudah kamu temukan, kamu harus terima tiap sisi yang ia miliki: sisi indahnya, dan sisi yang lain yang berdebu.
halagh….
yupz..semoga saja awan yang kutemukan adalah awan yang tepat
luput dari perhatian sang masa? engga kayaknya.. ^_^
malah jadi pusing ni…hahaha…thanks for de comment
judulnya menarik sangat… The Blind Ears…
dan saya yang agak terbelakang ini mencoba memahami sungguh2 makna tulisan di atas… nice! very nice!
hahaha…yang paling bukanlah untuk dipahami, melainkan dinikmati…itu cuma curahan hati belaka….soalnya kadang2 sering merasa sendiri dalam keramaian…hayah..malah curhat lagi